Pendidikan Yang Kehilangan Arah: Antara Rekayasa dan Terpinggirkannya Akidah
Dede S.Pd, (Guru SDN CEMPLANG 01), Desa Sukamaju, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Rabu 24 Juni 2026.
Hati ini terasa pedih dan miris menyaksikan kenyataan yang ada. Pendidikan yang seharusnya menjadi sarana melahirkan insan berakal mulia dan bertakwa, kini perlahan berubah menjadi ajang persaingan dan rekayasa. Banyak hal dijalankan bukan lagi berdasarkan kebenaran dan nilai luhur, melainkan segala cara ditempuh—meski harus mengesampingkan akidah, kejujuran, dan pegangan hidup kita.
Salah satu bukti nyata terlihat jelas saat masa Seleksi Penerimaan Murid Baru. Aturan yang dibuat sering kali terasa dirancang sedemikian rupa, membuat banyak orang tua dan anak-anak berjuang tanpa kepastian. Ada yang harus berputar arah, mengubah data, atau mencari jalan pintas hanya demi mendapatkan satu tempat belajar. Padahal, hak mendapatkan pendidikan yang layak seharusnya terbuka lebar bagi setiap anak, tanpa harus memaksakan hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani.
Lebih menyedihkan lagi, demi mengejar angka nilai, peringkat, atau pencapaian semata, nilai-nilai keimanan perlahan disisihkan. Ilmu diajarkan seolah terlepas dari penciptanya; akal dipupuk namun hati dibiarkan kosong. Cara-cara yang tidak jujur, ketidakadilan, serta kebijakan yang jauh dari kearifan, kerap dianggap lumrah selama tujuan tercapai. Kita lupa, bahwa kecerdasan tanpa akidah yang kokoh hanya akan melahirkan orang-orang pintar yang kehilangan arah, yang bisa menggunakan ilmunya bukan untuk kebaikan bersama.
Pendidikan sejati adalah proses menanamkan kebenaran, di mana setiap langkah dan cara yang diambil tetap berpegang pada aturan Tuhan. Namun kini, sering kali sistem maupun pelakunya terjebak dalam permainan angka dan penampilan, hingga melupakan hakikat utamanya: membentuk manusia yang utuh, cerdas pikirannya, lurus hatinya, dan kuat imannya.
Kesadaran ini harus tetap bersuara. Jangan biarkan keadaan ini dianggap biasa saja. Masih ada jalan untuk memperbaikinya, asalkan kita berani kembali pada prinsip dasar: bahwa pendidikan adalah amanah besar, yang pelaksanaannya tidak boleh mengorbankan akidah dan kejujuran demi apa pun di dunia ini. Semoga kelak, pendidikan di negeri ini kembali tegak pada jalannya yang lurus.



Posting Komentar