-->
24 C
id
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Merawat Budaya Sunda dalam Semangat Sumpah Pemuda

Oleh: Dadang Rachmat, S.H., Ketua MASDA Jawa Barat (Jabar) DKI Jakarta.


AS, Jakarta || Peringatan Hari Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober bukan sekadar mengenang ikrar para pemuda pada 1928. Momentum ini juga mengingatkan kita bahwa keberagaman budaya merupakan bagian penting dari kekuatan bangsa Indonesia.

Ditengah semangat persatuan dan kesatuan itu, sebagai masyarakat Sunda memiliki tanggung -  jawab untuk merawat warisan budaya sekaligus menjadikan bagian dari kehidupan kebangsaan.

Budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu yang disimpan dalam upacara atau pertunjukan. Budaya hidup melalui bahasa yang digunakan, nilai yang diwariskan, sikap dalam pergaulan, serta cara masyarakat membangun hubungan dengan sesama.

Dalam tradisi Sunda, nilai silih asah, silih asih, silih asuh mengajarkan pentingnya saling mencerdaskan, menyayangi, dan membimbing. Sementara itu, prinsip someah hade ka semah mencerminkan keramahan dalam menerima orang lain. Nilai-nilai tersebut tetap relevan untuk membangun kehidupan yang rukun di tengah masyarakat yang beragam.

Merawat budaya Sunda karena itu bukan semata-mata urusan mempertahankan tradisi. Lebih dari itu, terdapat nilai kemanusiaan dan kebersamaan yang dapat berkontribusi bagi kehidupan bangsa. Identitas kesukuan tidak harus dipertentangkan dengan identitas nasional. Keduanya dapat berjalan beriringan dan saling menguatkan.

*Budaya Sunda Melampaui Batas Wilayah*

Perkembangan Majelis Adat Sunda (MASDA) di berbagai provinsi, termasuk komunitas masyarakat Sunda di luar negeri seperti Amerika Serikat dan Australia, menunjukkan pentingnya ruang kebersamaan untuk menjaga warisan leluhur. Masyarakat Sunda dapat menetap di mana saja, tetapi hubungan dengan bahasa, adat dan nilai budayanya tetap dapat dipelihara.

Dalam konteks ini, keberadaan MASDA memiliki arti penting sebagai ruang untuk memperkuat persaudaraan, merawat tradisi, serta meneruskan nilai budaya kepada generasi berikutnya. Ketua Umum MASDA Jabar, Abah Anton Charliyan atau yang akrab disapa Abah Anton, bersama berbagai unsur masyarakat adat dan budaya memiliki peran dalam mendorong pelestarian tersebut.

Namun, pelestarian budaya tidak cukup hanya mengandalkan organisasi atau kegiatan seremonial. Keluarga, lembaga pendidikan, komunitas, dan generasi muda juga perlu terlibat. Bahasa Sunda, misalnya, dapat terus digunakan dalam keluarga dan pergaulan tanpa menghalangi generasi muda menguasai bahasa Indonesia maupun bahasa asing.

Begitu pula dengan kesenian, cerita rakyat, tradisi, dan pengetahuan lokal. Semuanya perlu diperkenalkan melalui cara yang sesuai dengan perkembangan zaman. Teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk mendokumentasikan, mempelajari, dan menyebarluaskan kekayaan budaya Sunda agar semakin dikenal oleh masyarakat luas.

Hal yang tidak kalah penting ialah memastikan bahwa budaya tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya ditampilkan pada acara tertentu. Nilai kesantunan, kepedulian, gotong royong dan penghormatan kepada sesama perlu tercermin dalam perilaku nyata.

*Semangat Sumpah Pemuda dan Tanggung Jawab Generasi Muda*

Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa perbedaan latar belakang tidak menjadi penghalang untuk membangun cita-cita bersama. Para pemuda pada 1928 menunjukkan bahwa identitas daerah dapat tetap hidup dalam semangat persatuan sebagai bangsa Indonesia.

Pesan itu relevan bagi masyarakat Sunda saat ini. Mencintai budaya sendiri tidak berarti merasa lebih tinggi daripada budaya lain. Sebaliknya, pengenalan terhadap identitas sendiri seharusnya menumbuhkan penghormatan terhadap keberagaman.

Generasi muda Sunda perlu diberi ruang untuk mengenal akar budayanya sekaligus mengembangkan kreativitas. Mereka dapat menghadirkan budaya melalui musik, film, sastra, konten digital, hingga berbagai kegiatan komunitas. Dengan demikian, budaya tidak berhenti sebagai warisan, tetapi terus berkembang tanpa kehilangan nilai dasarnya.

Sebagai Ketua MASDA Jabar DKI Jakarta,. penulis memandang upaya merawat budaya Sunda perlu dibangun melalui kebersamaan dan keterlibatan lintas generasi. Masyarakat Sunda di Jakarta dan daerah lainnya memiliki pengalaman hidup yang beragam. Keragaman tersebut dapat menjadi kekuatan untuk memperluas persaudaraan, bukan alasan untuk menjauh satu sama lain.

Pada akhirnya, merawat budaya Sunda merupakan bagian dari tanggung jawab bersama untuk menjaga kekayaan Indonesia. Semangat Sumpah Pemuda mengingatkan kita bahwa kecintaan terhadap budaya daerah harus berjalan seiring dengan komitmen terhadap persatuan nasional.

Kita tidak perlu kehilangan jati diri untuk menjadi bagian dari Indonesia. Justru dengan mengenali dan merawat akar budaya, kita dapat berkontribusi lebih kuat bagi bangsa.

Selamat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026.

*Urang Sunda, jaga budayana, kuatkeun duduluranana, tur babarengan ngawangun Indonesia.*

_Penulis adalah Ketua Majelis Adat Sunda (MASDA) Provinsi DKI Jakarta yang Juga merupakan Ketua Umum Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI)_
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru
kabarrilis.com, cepat, tepat, akurat dan berimbang
kabarrilis.com, cepat, tepat, akurat dan berimbang Update berita aktual seputar ekonomi, sosial budaya, kriminal dan hukum, olahraga, pendidikan, pemerintah, peristiwa, politik, religi, wisata dan hiburan

Posting Komentar