-->

Iklan

Kaboo PKM-RSH IPB : Pentingnya Peningkatan Pengetahuan Stunting Masyarakat Jampangkulon

Admin Kabarrilis.com
Saturday, July 06, 2024, 5:05 PM WIB Last Updated 2024-07-06T10:55:55Z
masukkan script iklan disini

 


Ipay, kabarrilis - Kabupaten Sukabumi || Pentingnya peningkatan pengetahuan dasar yang mendalam tentang stanting, menjadi sorotan khusus Mahasiswa dan Dosen Pembimbing Institute Pertanian Bogor (IPB).


Kaboo, Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) Tim yang dibentuk sebagai tempat (wadah) untuk kreativitas dan inovasi mahasiswa bidang riset yang sesuai dengan kaidah ilmiah salah satunya tentang stunting.


Tim Kaboo PKM - RSH Mahasiswa IPB University yang melakukan riset stunting dibawah bimbingan Dosen Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen Nurul Hidayati.


Laras Suprapti Mahasiswa Departemen Statistika dan Sains Data, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam bersama dengan Rahma Nia Putri Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Ekologi Manusia.


Lokasi yang dipilih oleh Tim Kaboo PKM - RSH Mahasiswa IPB University, untuk melakukan riset stunting, di Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, yang dilaksanakan pada bulan Mei 2024 silam.


Menurut Ketua Tim Kaboo PKM - RSH IPB University Ahmad Nagib, dipilihnya Kecamatan Jampangkulon dijadikannya tempat melakukan riset stunting, karena minimnya pemahaman dari masyarakat


"Jampangkulon merupakan salah satu Kecamatan yang berada di Kabupaten Sukabumi dan termasuk daerah yang perlu diperhatikan, karena masih adanya kasus stunting yang terjadi di daerah ini. Pada umumnya kasus stunting terjadi, akibat dari kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi, secara signifikan mempengaruhi prevalensi stunting di masyarakat. 


Stunting yang terjadi akibat kekurangan gizi kronis pada masa pertumbuhan anak, menjadi perhatian utama dalam upaya untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat terhadap masalah kesehatan ini," 


Stunting merupakan kondisi dimana tinggi badan yang rendah menurut usia, yang diakibatkan dari kekurangan gizi kronis. Berdasarkan studi Tebi et al. (2021) mengatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi stunting adalah tingkat pengetahuan. Tingkat pengetahuan yang rendah diantara masyarakat sering kali menjadi penghambat utama dalam upaya pencegahan stunting," ungkap Ahmad Nagib.


Dengan hal yang tersebut diatas Ahmad Nagib bersama dengan Tim PKM - RSH Kaboo melakukan survey di bulan Mei 2024 lalu, dengan tujuan mengukur tingkat pemahaman dari masyarakat Jampangkulon mengenai stunting. 


"Dengan memberikan 10 pertanyaan mengenai stunting, hasil dari survey ini diharapkan masyarakat dapat meningkatkan pemahaman tentang keadaan pengetahuan masyarakat tentang stunting di Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, dan memberi dasar yang kuat untuk membangun program edukasi yang lebih efisien dan dapat diukur. 


Selain itu, hasil survey juga diharapkan dapat menjadi dasar untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang stunting, diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih baik untuk tumbuh kembang optimal anak-anak dan mengurangi prevalensi stunting di wilayah ini dan di wilayah lain yang menghadapi permasalahan serupa," paparnya.


5 Desa di Kecamatan Jampangkulon yang dijadikan area riset Ahmad Nagib bersama Tim melakukan survei, dengan melibatkan 55 responden yang mading - masing mendapat pertanyaan secara umum


"Berdasarkan hasil survei, menunjukan hanya 18 dari 55 responden saja yang menjawab benar, lebih dari setengah jumlah soal, rata-rata jumlah jawaban benar untuk seluruh responden adalah 4,2 persen, yang mana hasil tersebut tidak menyentuh setengah dari jumlah soal. 


Hasil tersebut menandakan kurangnya pengetahuan dari masyarakat jampang kulon mengenai stunting, survei diawali dengan 3 pertanyaan yang umum, yaitu definisi stunting, penyebab terjadinya stunting, ciri-ciri anak yang mengalami stunting. Hasil jawaban pada pertanyaan terkait definisi stunting menunjukan proporsi antara responden yang menjawab benar dan responden yang menjawab salah adalah 1:5. 


Perbandingan tersebut sangat terlampau jauh dan menandakan bahwa masih minimnya pengetahuan masyarakat Jampangkulon yang memiliki anggota keluarga yang mengalami stunting terhadap kejadian stunting. Hal ini menunjukan perlunya pendekatan yang lebih luas dan komprehensif dalam menyampaikan informasi yang akurat dan mendalam kepada masyarakat mengenai masalah ini.


Selain rendahnya pengetahuan tentang stunting, tidak sedikit responden yang merasa asing dengan program unggulan Gubernur Jawa Barat dalam mendukung program nasional untuk menurunkan prevalensi stunting, yaitu “Jabar Zero New Stunting”. 


Program ini merupakan bagian dari inisiatif Gubernur Jawa Barat untuk mendukung upaya nasional dalam menangani stunting. Hasil survei menyatakan bahwa hanya 12,7% yang menjawab tahu terkait program tersebut. 


Hal ini menunjukan bahwa tidak hanya pengetahuan tentang stunting yang minim, tetapi juga kurangnya kesadaran akan kebijakan dan program yang ada untuk mengatasi masalah ini di tingkat masyarakat.


Dalam mengatasi masalah ini, perlu adanya kolaborasi dan kerjasama serta sinergitas antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat guna meningkatkan akses informasi dan pengetahuan tentang stunting. 


Untuk memberikan informasi yang akurat, mudah dipahami, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, langkah-langkah strategis harus diambil. Sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat melalui berbagai media dengan melibatkan berbagai stakeholder terkait perlu ditingkatkan dengan cara dan tindakan preventif dan reaktif yang terprogram. 


Salah satu yang dilakukan untuk mengedukasi kembali secara masif mengenai pentingnya mencegah stunting sejak dini dengan menerapkan pola makan yang seimbang, kebersihan lingkungan yang baik, dan kesadaran dalam melakukan pengecekan kesehatan secara berkala kepada masyarakat pada umumnya dan para calon pengantin, ibu hamil, dan keluarga yang memiliki balita pada khususnya," tutup Ahmad Nagib kepada kabarrilis.com melalui pesan Whatsapp nya, Sabtu 06 Juli 2024.

POLITIK

+