BUDAYA
Khazanah Dan Tradisi Peringati Mendak Tahun, Tidak Lengkang Tergerus Arus Zaman Era Digital ...
JAKARTA, KABARRILIS.COM Dalam Era Digital Dan Globalisasi Yang Semakin Menggerus khazanah tradisi dan kebudayaan, terutama dalam hal bidang keagamaan. Dan tidak sedikit pula sebagian besar masyarakat khususnya yang tinggal diperkotaan seperti di Jakarta. warganya masih sebagian besar melestarikan tradisi melakukan hal-hal yang diturunkan oleh nenek moyang mereka, salah satunya tradisi mendak tahun.
Halnya dengan masyarakat di Jalan Dwiwarna, Kelurahan Kartini, Kecamatan Sawah Besar Jakarta Pusat. tidak sedikitpun menggoyahkan sebagian besar warganya dalam melakukan kegiatan tradisi tersebut. Tradisi mendak masih sangat perlu dilestarikan, karena mengandung nilai-nilai yang kian lama mulai terkikis oleh zaman, ucap Ust A. Mutholib sebagai pemuka/tokoh masyarakat.
"Mendak adalah suatu tradisi kegiatan pasca (setelah) kematian dari salah satu keluarga," dari rangkaian kegiatan itu sebelumnya pihak keluarga yang ditinggalkan telah melakukan kegiatan tradisi tujuh hari (mitung dina), lalu empat puluh hari (matang dina), dan seratus hari (nyatus dina) baru kemudian mendak pertama ( satu tahun pertama).
Hal ini terjadi pada acara mendak pertama Almarhumah ibu Sulastri yang dilaksanakan oleh keluarga dan anaknya, pada hari Jumat (12/02-2021). Para warga dan tetangga di sekitar RW 01 bersama-sama memperingati wafatnya almarhumah melalui mendak pertama tersebut.
Dalam hal pelaksanaan tradisi kegiatan mendak tahun, biasanya kaum wanita dan ibu-ibu membantu membuatkan makanan kecil dan besar, sedangkan kaum laki-lakinya mempersiapkan tempat dan membaca tahlil serta doa.
Disinilah keunikan tradisi ini, menyampaikan nilai sosial secara lembut tapi mengena tepat pada sasarannya yaitu kepedulian dalam bergotong royong. Kegiatan bersama yang tumbuh menjadi sangat kepedulian dengan nilai kekeluargaan dan kebersamaan agar kearifan itu tidak lengkang (luntur), karena setiap khazanah kebudayaan itu mengajarkan nilai-nilai kebaikan.
( J. Harbono )
Copyright kabarrilis.com
Via
BUDAYA

Posting Komentar